Friday, 25 September 2009

Welcome to My Life

...which better called a crap.

Gue udah belajar banyak hal di hidup gue. Mulai sesederhana gimana caranya ngebersihin kuping yang kemasukan aer (yaitu dengan netesinnya lagi pake aer, terus bengkokin kepala biar aernya bisa masuk baru setelah kerasa lega, kepalanya dibengkokin lagi biar aernya bisa keluar) sampai menerima.

Fuck!

Menerima itu kata kerja paling brengsek yang pernah ada. Mungkin di kamus hiduplo, menerima berarti lo nggak musti ngapa2in. Menerima ya.. tinggal duduk manis dan dapetin apa yang lo mau. Hah! Di hidup gue nggak begitu.

Yang namanya menerima di hidup gue adalah: mendapat sesuatu yang gue nggak mau tapi mau-nggak-mau harus gue terima atau gue jalanin in my fucking WHOLE life. Kita mulai dari.. Waktu gue TK. Emangnya gue dapet guru TK yang gue mau? Kalopun akhirnya gue suka diajar sama beliau; tapi itu bukan pilihan gue. Waktu SD. Emangnya gue mau masuk Vincent? Gimana kalo sebenernya gue pengennya masuk Sumbangsih atau Al-Azhar? Pas SMP juga. Kenapa gue cuman daftar Vincent? Pas SMA.. Kenapa harus swasta? Nilai gue cukup kok buat masuk 8, atau 81, atau 68, apalagi 26. Kenapa Sanur? Terus, pas kuliah. Emangnya gue mau masuk Sastra Prancis? Gue suka, kok di FIB. Gue suka nulis, gue suka sastra. Tapi apa impian gue sebenernya? Gue pengen jadi diplomat. Gue pengen nyandang gelar SH di belakang nama gue.

Gue tau gue kedengeran nggak bersyukur. Bagus dapet guru yang tegas, bagus masuknya swasta yang streng, bagus masuk Sanur, bagus masuk UI! Iya.. gue bersyukur dengan apa yang gue punya sekarang, kok. Tapi pertanyaannya: kenapa gue nggak pernah dapet apa yang gue mau dan gue harus menerima apa yang memang gue butuh?

Nahh! Lebih bijak kita memilih apa yang kita butuh rather than apa yang kita mau kan? Tapi, tai kucing! Di mana excitemennya? Di mana kepuasannya?

Gue harus selalu berlapang dada dan dengan bijak tersenyum sambil bergumam, "Ya udah, nggak apa-apa."

Itu yang gue lakukan. Gue bersumpah, kalo di dunia nyata gue nggak akan bisa menggugat kayak gini. Gue hanya akan diam, senyum, dan nunduk kalo terjadi sesuatu yang sebenernya gue nggak mau.

Gue sedih, cuy. Gue sedih dan gue nggak tau bisa cerita ke siapa. Not even dua perempuan cantik yang biasanya jadi tempat curhatan gue. Not even them can understand. Hahaha.. gue stress. Rasanya kepala mau meledak, tapi yang gue lakukan hanya diam, senyum, dan nunduk :(

2 comments:

tammi prasetyo said...

kalo menurut gue, menerima itu adalah proses untuk belajar berdamai dengan diri sendiri dari segala macam emosi yang menumpuk.
ehehe..

btw, salam kenal ya! :)

Tabita Nugroho said...

halo tammi, salam kenal juga. maaf ya sudah hampir setaun baru dibalas, abis nggak ada notification sama sekali hehe.

iya, setuju. menerima itu proses blajar berdamai sama diri sendiri. ive learnt it in a haaaard way hehe