Ya sudah, puisi saja. Kan multitafsir. P1-nya siapa, P2-nya siapa kan ya nggak jelas. Ya kan? (:
Thursday, 7 October 2010
Kenapa puisi?
Karena 140 karakter itu sekarang jadi mata pisau. Lalu, dengan serta merta, tanpa memandang apakah itu fiksi atau fakta, atau sekedar ocehan, atau berita, siapapun yang membaca akan merasa itu amaran.
Puisi Maaf
Banyak salah, lalu marah, jadinya susah
Bikin salah, lalu marah, orang jadi susah
Aku marah, padahal salah, kita jadi susah
Kamu susah, aku malah marah, ya jelas itu salah
Maaf.
Bila nanti kau cari aku..
Bila nanti kau sudah jenuh dengan jenuh,
aku akan ada di sana ketika kau membuka pintu.
Bila nanti kau lelah dengan kelelahan,
kedua tanganku akan sigap memelukmu, dan senyumku yang akan menyambutmu.
Bila nanti kau terdiam dan hampa menyapamu,
aku hanya akan sejauh rindu.
Bila nanti kau cari aku,
mungkin saat itu aku sudah berhenti mencarimu.
Bukan karena aku lelah menunggumu mencari aku,
tapi karena aku tidak pernah meninggalkan sisimu.
Tuesday, 5 October 2010
Untuk Kekasih
Malam menjawab kekhawatiran kita akan dingin yang menusuk dan lolongan anjing yang menyabik takut kita.
Lalu pagi datang tanpa bisa menanti, membawa pisau-pisau kecil dari angkasa.
Malam terlalu sunyi, kita berdua takut merindu karena ruang yang berbatas dan waktu yang terbuang sia-sia.
Pagi terlalu gelap, dan nada-nada sumbang penuh puisi kembali lagi mencoba mengoyak rasa yang ingin kita lupakan.
Malam-malam getsemani kita sudah lewat, namun kini tinggal pagi-pagi melankolia.
Aku sendirian menatap nanar pada pagi.
Seiring senyum dan gumam bisu: aku akan terus mencintaimu.
Saturday, 28 August 2010
Seperti Bernafas di Ruang Kedap Udara
Kesal bercampur kecewa, ditambah sedih, dicampur sama gemes, dan dibumbui dengan sedikit dendam. Mungkin itu yang lagi gue rasa. Ya, bukan galau. Ini lebih ke arah: marah.
Sekarang tahun 2010 dan karena gue lahir tahun 1990, berarti umur gue sekarang 20 tahun. Di Indonesia, gue udah berstatus sebagai warga negara Indonesia yang sah. Gue punya hak pilih di Pemilu, gue boleh ngerokok, gue boleh minum, gue bahkan seharusnya boleh mengakses situs-situs porno yang umur minimum pengakses 18 tahun.
Tapi gue ternyata nggak punya ruang bebas di keluarga gue sendiri.
Gue ternyata nggak boleh milih dengan siapa gue berteman, dengan siapa gue bekerja, dan dengan siapa gue menaruh hati gue. Lucunya, orang yang melarang gue ini bukan orangtua gue. Haha! Ironis, kan?
Gue tau maksudnya baik. Tapi gue punya otak, gue punya hati, dan gue punya jalan hidup yang sudah ditentukan Tuhan-nya dia (kalau tidak mau menyebut itu Tuhannya teman-teman gue atau Tuhan gue, atau tuhan kepala spaghetti, atau siapa lah padahal Tuhan kita semua bukannya satu, ya?)
Jadi, maaf. Respek saya berkurang banyak, karena ini menyakiti saya: seperti bernafas di ruang kedap udara.
Friday, 4 June 2010
Tanya Kenapa?
Kenapa ya, gue nggak belum pernah bisa ngikutin arus jaman dan jadi normal (baca: kayak anak2 seumuran gue lainnya yang make baju in style, jadi it girl, ngerti make-up, dan buka majalah bisa langsung bilang, "Eh ini kan yang gue beli kemaren.")?
Hari ini Kadang-kadang gue capek ngadepin beginian. Gue milih tinggal di rumah, nggak musti ketemu siapa-siapa, dan berkutat aja sendirian di rumah. Ngapain, kek.. Bikin web, bikin design apa kek.. Anything that doesn't involve me having contact with other people and doesn't require me to wear anything superb; not decent, superb.
It's depressing. Secara, pacar gue adalah seorang yang-entah kenapa-sangat aware dengan keadaan jerawat gue, keadaan berpakaian gue, kadar kemanisan gue saat ketemu dia, dan yang paling "menekan" gue adalah.. he's kind of man who has many closed-friends that not only beautiful but they are "the it girls".
Pengen deh sekali-sekali gue terbebas dari hempitan konsumerisme yang "menekan" hidup gue. Gue pengen muter2 keliling Jakarta sambil ambil foto2 sama orang yang paling gue sayang tanpa harus mikir kamera gue bukan kamera SLR dan kemampuan foto gue juga masih sangat amatiran, gue gak musti mikir pake baju apa yang bagus, tatanan rambut apa yang nggak keliatan acakadut, dan bagaimana gue masih bisa keliatan cantik tanpa harus naek kendaraan pribadi.
Jesus Christ, sudah cukup, saya nggak bisa ngadepin himpitan konsumerisme ini. Please.
Thursday, 13 May 2010
Lebih Banyak Gambar dan Lebih Banyak Cinta
Mari menggambar, lagipula saya sudah kekurangan kata-kata. Apalagi yang puitis. Mungkin juga ini gara-gara teman-teman saya mayoritas menganggap saya sedang galau ketika saya berpuisi; lalu saya jadi trauma membuat puisi.
Lalu saya jatuh cinta pada orang yang suka menggambar. Jadilah kami pacaran sambil menggambar.
Seru! Mari menggambar (:
Monday, 26 April 2010
Payah
Jadi.. ceritanya hari ini gue terinspirasi sama blog ini dan pengen bikin blog baru yang kesannya clean, simple, tapi kreatif gitu; intinya setengah mencontek blog itu deh. Eh, seperti biasa, setelah milih2 theme, malah jadi ilfeel dan berenti punya niat bikin blog baru. Yaudahlah, yang ini aja diisi lagi. Hehe..
Payah. Iya, payah. Payaaah banget gue minggu2 ini. Gue masih belom bisa nyetir, masih belom bisa konsisten, dan yang paling parah.. Masih belom bisa ngebagi waktu.
Tugas2 gue di RTC terbengkalai, tugas kuliah bececeran, yang paling parah ya gue nggak pernah nongol lagi di DPM. Huhu, maaf ya semuanyaaa ):
Mulai sekarang juga, kayaknya gue bener2 harus memperbaiki diri, nih. Kalo nggak.. Mau jadi apa coba hidup gue? *sigh*
Sunday, 18 April 2010
Back to Reality
Yah, waktunya kembali ke kehidupan normal. Artinya: kembali memikirkan IP, kembali berkutat dengan CV, kembali mencari pekerjaan, dan kembali membereskan hal nggak beres di kehidupan. Yeah!!
Subscribe to:
Posts (Atom)