Tuesday, 24 February 2009

It's Our God-forsaken Right to be Loved

Berkat matkul Pengantar Kesusastraan, hari ini gue akan kembali membicarakan soal cinta dan konsep happily ever after.

Jadi, begini ceritanya *hoho berasa acara semacam Kismis, Kisah-Kisah Misteri hahaha* setelah hari ini dipenuhi rasa jengkel dan deg2an norak gara2 ketemu sama dia, tapi dicuekin... Akhirnya gue masuk ke kelas Pekasus (Pengantar Kesusastraan -red). Hari ini kita membahas soal Reproduksi Sastra. Intinya, dari karya sastra yang ada, bisa diciptakan berbagai macam karya sastra yang lain. Contohnya, dari cerpen ke cerpen lain, dari puisi ke cerpen, dari cerpen ke puisi, dsb.

Nahh, kemudian kita membahas reproduksi cerita rakyat, yang kemudia beralih ke reproduksi cerita dongeng, dan kemudian sampailah di cerita Cinderella, atau menurut Charles Perrault, Cendrillon.

Pasti tau cerita Cinderella, dong? Ibu Tiri-Ibu Peri-dua saudara tiri-sepatu kaca-pangeran-jam 12-happily ever after-dan bla bla bla... Nahh, cerita ini udah sangat banyak direproduksi. Mulai dari dibuat film kartun, film layar lebar, sampai cerpen (bahkan dari Indonesia ada, hlo!).

Happily ever after...

Konsepnya kayak gimana, sih? Nemuin pangeran sempurna dan kehidupan yang lebih sempurna lagi? Huaaa, gue bahkan nggak ngebayangin ch√Ęteau dan pangeran! Sekarang gue hanya membayangkan satu sosok. SATU.

Tapi, apa itu tujuan hidup gue? Hmmpf... Kalo udah ditanya dengan pertanyaan ini, gue mati kutu lah pokoknya. 

Kemudian... Di tengah kebetean gue, masih dengan alasan yang sama, akhirnya gue pulang dan sampai di stasiun Tebet. Gue nggak ngerti ada apa dengan stasiun Tebet. Gaul banget, Bos! Turun dari kereta, gue disambut dengan lagu Jason Mraz pas bagian,

"And It's our God-forsaken right to be loved love loved love loved
So I won't hesitate no more, no more 
It cannot wait I'm sure
There's no need to complicate 
Our time is short
This is our fate, I'm yours"


Huaaa, gue makin frustasi. Gak lama, sayup2 lagu Jason Mraz ini digantikan dengan suara saxophone dan alunan jazz ringan. What da?? Keren amat stasiun Tebet.

Lirik lagu Jason Mraz tadi, walaupun sepintas, ngebuat gue mikir. Seperti Cinderella, semua orang udah punya porsinya masing2. Porsi 'hidup bahagia', porsi 'kesempurnaan', dan porsi2 lainnya. Lucunya, nggak semua orang tau kalau dia punya porsi itu dan terus terus dan teruuuuus menunggu.

Kenapa musti menunggu? Dash! Kemudian gue inget ungkapan le mendiant d'amour atau bahasa kerennya pengemis cinta (hahaha)! Ngapain deh? Kenapa gak kita ngejalanin aja sebaik mungkin apa yang ada di depan kita? Bukan berarti kita gak boleh mencintai, menunggu, dan berharap. Tapi, kenapa nggak kita nyantai? Penuh senyum dan gelak tawa... Yang pasti, 'menunggu' nggak lagi menjadi verba yang tengah kita lakukan. 'Menunggu' hanya menjadi 'pekerjaan sampingan' ketika kita sedang fulfilling tujuan hidup kita.

Ugh, masih kesel. Hlo?? Hahaha. Payah.

1 comment:

timothy said...

ahahahaha setuju banget...
hidup ya dibawa santai aja...
happy-go-lucky!